KEBENARAN HUKUM TAHLILAN

1. Sejarah asal mula adanya tahlilan
Kata tahlil sebenarnya tercetak dari ungkapan ringkas “Laa ilaha illa Alloh ” yang dijadikan percakapan oleh orang-orang arab.
Jika kita melihat historis yang telah ada, sebenarnya Tahlil sudah ada pada saat zaman nabi Muhammad SAW, terbukti dengan adanya ungkapan tersebut, hanya saja tidak tersusun rapi sebagaimana saat ini, yang telah dianggap oleh kebanyakan manusia buta sebagai bid’ah dlolalah, terutama oleh golongan non NU. Tahlil yang biasa kita lakukan dengan tujuan untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal dunia, sebenarnya bermula dari perjuangan sunan-sunan Walisongo , yang mana pada saat itu adat istiadat orang jawa, ketika ditinggal mati oleh sanak keluarganya dilakukan ritual selam tujuh hari berturut-turut dan hari ke empat puluh setelah kematian, mereka (orang jawa ) mempercayai bahwa ritual ini dapat menebus dosa-dosa mayyit atau paling tidak bisa menambah kebaikan-kebaikannya, namun jika dilihat dari kacamata agama islam, sebenarnya dalam ritual tersebut malah menimbulkan mafsadah (kerusakan) yang luar biasa, karena di isi dengan judi-judian dan minum-minuman keras, yang mana hal ini jelas dilarang oleh agama, diluar kesadaran mereka.
Dari latar belakang semacam inilah, maka sunan-sunan WaliSongo tergugah untuk merubah adat istiadat mereka dengan ritual yang islami, hanya saja oleh beliau-beliau disadari bahwa adat semacam ini tidak mungkin dirubah secara total, karena kalau sampai dirubah secara total maka sudah bisa dipastikan bahwa orang jawa tidak mau mengikuti ajaran Walisongo, bahkan mungkin mereka akan melakukan tindak anarkis yang bisa membahayakn kelangsungan dakwah para Wali di tanah jawa ini, sebab selain mereka sudah sangat percaya dengan adat semacam ini, mayoritas orang jawa pada saat itu adalah abangan (manusia keras kepala dan anti agama). Maka muncullah satu pemikiran hebat dari sunan walisongo untuk memanfaatkan tujuh hari atau lainnya, dari apa saja yang telah mereka adatkan, dengan diisi tahlil bersama, sebagaimana yang telah kita rasakan saat ini kemanfaatannya, jadi jangan sekali-kali mempunyai anggapan bahwa tahlil hanya akal-akalan orang NU tanpa adanya tendensi (pegangan) hukum yang jelas.

2. Dalil-dalil yang memperbolehkan tahlil

1. Dalil-dalil Al-Qur’an
Tentang sampainya hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia Terdapat banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menyatakannya, baik ketika mereka masih hidup ataupun setelah meninggal dunia. Di antaranya adalah :
a. QS. Muhammad : 19
واستغفر لذنبك وللمؤمنين والمؤمنات
“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”.
Ayat tersebut menerangkan bahwa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan mendapatkan manfaat dari istighfar orang mukmin lainnya. Dalam tafsir Al-Khazin dijelaskan:
فى معنى الاية استغفر لذنبك اي لذنوب اهل بيتك (وللمؤمنين والمؤمنات) يعني من غير اهل بيتك وهذا اكرام من الله عز وجل لهذه الامة حيث امر نبيه ص م ان يستغفر لذنوبهم وهو الشفيع المجاب فيهم
“makna ayat استغفر لذنبك adalah mohonlah ampunan bagi dosa-dosa keluargamu dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, artinya selain keluargamu. Ini adalah penghormatan dari Allah Azza wa Jalla kepada umat Muhammad, di mana Dia memerintahkan Nabi-Nya untuk memohonkan ampunan bagi dosa-dosa mereka, sedangkan Nabi SAW adalah orang yang dapat memberikan Syafa’at dan do’anya diterima (Tafsir Al-Khazin Juz VI hal 180).

b. QS Al-Nuh : 28
رب اغفرلي ولوالدي ولمن دخل بيتي مؤمنا وللمؤمنين والمؤمنات ولاتزد الظالمين الاتبارا
“Ya Tuhanku ! ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, serta semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang dhalim itu selain kebinasaan”

Dalam ayat tersebut dijelaskan, bahwa Nabi Nuh AS mendo’akan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan agar dosanya diampuni oleh Allah SWT.

c. QS Ibrahim : 40-41
رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي ربنا وتقبل دعاء
ربنا اغفرلي ولوالدي وللمؤمنين يوم يقوم الحساب
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat, ya tuhanku kami, perkenankanlah do’aku (40) Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (41)”

Dalam menafsirkan ayat di atas Syekh ‘Alaudin Ali bin Muhammad bin Ibrahim Al-Baghdadi mengatakan :
وهذا دعاء للمؤمنين بالمغفرة والله سبحانه وتعالى لايرد دعاء خليله إبراهيم عليه السلام ففيه بشارة عظيمة لجميع المؤمنين بالمغفرة
“Ini merupakan do’a memohon ampunan kepada Allah SWT untuk orang-orang mukmin. Sementara Allah SWT tidak akan menolak do’a kekasih-Nya Ibrahim AS. Dalam ayat tersebut terkandung satu kabar gembira yang besar bagi orang-orang mukmin dengan adanya ampunan dari Allah SWT berkat do’a nabi Ibrahim AS.” (Tafsir Al-Khazin Juz IV hal 50).

d. QS Al-Hasyr : 10
والذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفرلناولإخواننا الذين سبقونا بالايمان ولاتجعل في قلوبنا غلا للذين امنوا
ربنا انك رءوف رحيم
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdo’a, “Ya Tuhan kami, berilah ampunan kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang mati bisa mendapatkan manfa’at dari istighfar yang dibaca oleh orang yang masih hidup.

e. QS Al-Thur : 21
والذين امنوا واتبعتهم ذريتهم بايمان الحقنا بهم ذريتهم وماالتناهم من عملهم من شيئ كل امرئ بما كسب رهين
“Dan orang-orang yang beriman serta anak cucu mereka mengikuti merka dalam keimanan, kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat apa yang dikerjakannya”

Mengenai ayat ini Syekh ‘Alaudin Ali bin Muhammad bin Ibrahim Al-Baghdadi memberikan penjelasan :
يعني الحقنا اولادهم الصغار والكبار بايمانهم فالكبار بايمانهم بانفسهم والصغار بايمان أبائهم فان الولد الصغير يحكم بإسلامه تبعا لأحد ابويه (الحقنا به ذرياتهم) يعني المؤمنين فى الجنة بدرجات أبائهم وان لم يبلغوا بأعمالهم درجات أبائهم تكرمة لأبائهم لتقر اعينهم هذا رواية عن ابن عباس
“Artinya kami menyamakan anak-anak mereka yang kecil dan yang dewasa dengan keimanan orang tua mereka yang dewasa dengan keimanan mereka sendiri, sementara yang kecil dengan keimanan orang tuanya. Keislaman seorang anak yang masih kecil diikutkan pada salah satu dari kedua orang tuanya. (kami menyamakan kepada mereka keturunan mereka) artinya menyamakan orang-orang mukmin di surga sesuai dengan derajat orang tua mereka, meskipun amal-amal mereka tidak sampai pada derajat amal orang tua mereka. Hal itu sebagai penghormatan kepada orang tua mereka agar mereka senang. Keterangan ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA” (Tafsir Al-Khazin Juz VI hal 250).

Penjelasan yang sama dapat dilihat dalam Tafsir Jami’ Al-Bayan karya Ibnu Jarir Al-Thabari Juz 28 Hal 15.
Beberapa ayat dan penafsiran tersebut menjadi bukti nyata bahwa orang yang beriman tidak hanya memperoleh pahala dari perbuatannya sendiri. Mereka juga dapat merasakan manfaat amaliyah orang lain.

2. Dalil-dalil Al-Hadits
Kalau Al-Qur’an sudah menjelaskan bahwa orang mukmin dapat memperoleh manfaat dari amal orang lain , maka di dalam hadits Nabi SAW juga ada dan cukup banyak. Di antaranya adalah :
a. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA.
عن ابن عباس رضي الله عنه ان رجلا قال يارسول الله ان امي توفيت افينفعها ان تصدقت عنها ؟ قال نعم. فان لي مخرفا فاشهدك اني قد تصدقت به عنها
“Dari Ibnu Abbas RA, ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, “Wahai Rosulullah, ibu saya meninggal dunia. Apakah ia akan mendapatkan kemanfaatan jika saya bersedekah untuknya ?”, Nabi SAW menjawab, “Ya”. Laki-laki tersebut berkata, “Saya mempunyai kebun, saya mohon kepadamu wahai Rosulullah untuk menjadi saksi saya bersedekah atas nama ibu saya” (shahih al-Bukhari, 2563).

Hadits di atas menerangkan bahwa sedekah yang dikeluarkan oleh seseorang, pahalanya bisa sampai kepada orang yang telah meninggal dunia. Termasuk dalam kategori sedekah adalah bacaan tasbih, takbir, tahmid dan tahlil, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam kitab Riyadlus Sholihin.

b. Hadits Riwayat Ma’qil bin Yasar RA.
عن معقل بن يسار أن رسول الله ص م قال ويس قلب القرأن لا يقرؤها رجل يريدالله تبارك وتعالى والدار الاخرة الا غفر له واقرءوها على موتاكم
“Diriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Surat Yasin adalah intisari Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya dengan mengharap rahmat Allah SWT kecuali Allah SWT akan mengampuni dosadosanya. Maka bacalah surat Yasin atas orang-orang yang telah meninggal di antara kamu sekalian” (Musnad Ahmad bin Hambal, 19415)

Hadits di atas secara tegas menganjurkan membaca Al-Qur’an untuk orang yang yang telah meninggal dunia, karena yang dimaksud mautakum dalam hadits tersebut adalah orang-orang yang telah diambil ruhnya. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Haula Khasaish Al-Qur’an.
قال محب الدين الطبري : المراد الميت الذي فارقته روحه, وحمله على المحتضر قول بلا دليل

“Syekh Muhibbuddin Al-Thabari mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata mautakum dalam hadits tersebut adalah orang yang ruhnya telah terpisah dari jasadnya. Adapun pendapat yang mengartikan kata mautakumdengan “orang yang akan meninggal dunia” adalah pendapat yang tidak berdasar”.(Haula Khasaish Al-Qur’an, 44)

c. Hadits riwayat sayyidina Ali RA yang diriwayatkan oleh Abu Muhammad Al-Samarqandi,Al-Rafi’I dan Al-Daraquthni
عن علي رضي الله عنه, أنه عليه الصلاة والسلام قال : من مر على المقابر وقرأ قل هوالله احد احدى عشرة مرة ثم وهب اجرهاللأموات اعطي من الأجر بعدد الأموات

“Dari Ali RA Rasulullah SAW bersabda. “Barang siapa berjalan melewati pemakaman, lalu membaca surat Al-Ikhlas sebelas kali dan menghadiahkan pahalanya kepada ahli kubur, maka ia akan diberi pahala sejumlah ahli kubur.” (diriwayatkan oleh Abu Muhammad Al-Samarqandi Al-Qur’an 45)

d. Al-Khallal dari al-Sya’bi berkata :
كانت الانصار اذا مات لهم الميت اختلفوا على قبره يقرءون عنده القرأن
“Jika ada sahabat di kalangan Anshar meninggal dunia, mereka berkumpul di depan kuburnya sambil membaca Al-Qur’an”. (al-Ruh, 11)

Berdasarkan beberapa hadits serta amaliyah para sahabat di atas jelaslah bahwa Nabi Muhammad SAW menganjurkan membaca Al-Qur’an di atas kubur, lalu para sahabat mengerjakan anjuran Nabi SAW tersebut. Jadi tidak diragukan lagi bahwa bacaan Al-Qur’an atau amal ibadah lainnya dapat bermanfaat kepada mayit. Sebab bila tidak ada manfaatnya, Nabi SAW tidak akan menganjurkan para sahabatnya melakukan sesuatu yang sia-sia, tidak ada guna dan manfaatnya.

3. Pendapat para ulama’
Mayoritas ulama menyatakan bahwa mayit dapat memperoleh manfaat dari usaha (amal orang yang masih hidup).
 Kata Imam Al-Qurthubi :
كان الامام أحمد بن حنبل رضي الله عنه يقول اذا دخلتم المقابر فاقرءوا فاتحة الكتاب والمعوذتين وقل هوالله احد واجعلوا ثواب ذلك لأهل المقابر فإنه يصل اليهم

“Imam Ahmad bin Hambal RA berkata : “Apabila kamu berziarah ke pemakaman, maka bacalah surat Al-Fatihah, Al-Mu’awwidzatain, dan surat Al-Ikhlas. Kemudian hadiahkan pahalanya kepada ahli kubur. Maka sesungguhnya pahala tersebut sampai kepada mereka”.(Mukhtashar Tadzkirat Al-Qurthubi, 25)

 Dalam kitab Nihayah al-Zain disebutkan :
قال ابن حجر نقلا عن شرح المختار: مذهب أهل السنة ان للإنسان ان يجعل ثواب عمله وصلاته للميت ويصله

“Ibnu Hajar dengan mengutip Syarh Al-Mukhtar berkata: “Madzhab Ahlussunnah berpendapat bahwa seseorang dapat menghadiahkan pahala amal dan do’anya kepada arang yang telah meninggal dunia. Dan pahalanya akan sampai kepadanya” (Nihayah Al-Zain, 193)
 Ibnu Taimiyyah mengemukakan beberapa alasan mengenai sampainya hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam kitab Tahqiq Al-Amal, 53-56 :
قال ابن تيمية, من اعتقد أن الإنسان لاينتفع الا بعمله فقد خرق الإجماع وذلك باطل من وجوه كثيرة
“Ibnu Taimiyyah berkata, “Barang siapa berkeyakinan bahwa manusia tidak dapat memperoleh manfaat kecuali dari amalnya sendiri, maka ia telah menentang ijma’. Hal itu batal karena beberapa hujjah sebagai berikut :
 Manusia dapat memperoleh manfaat do’a orang lain, dan ini berarti memperoleh manfaat dari amal orang lain.
احدها أن الإنسان ينتفع بدعاء غيره, وهو إنتفاع بعمل الغير

 Berdasarkan hadis dan ijma’ ulama, haji fardlu yang menjadi tanggungan mayit dapat gugur dengan haji yang dilakukan walinya. Keterangan ini menunjukkan bermanfaatnya amal orang lain.
أن الحج المفروض يسقط عن الميت بحج وليه بنص السنة والإجماع, وهو انتفاع بعمل الغير

 Tetangga yang baik dapat memberi manfaat ketika masih hidup atau setelah ia meninggal dunia seperti dijelaskan dalam atsar.
أن الجار الصالحة ينفع فى المحيا والممات كماجاء فى الأثر

 Dalam kitab Nailul Author, Al-Syaukani mengutip syarah kitab Al-kanz :
وقال فى شرح الكنز إن للإنسان ان يجعل ثواب عمله لغيره صلاة كان او صوما او حجا او صدقة او قراءة قرأن او غير ذلك من جميع انواع البر ويصل ذلك الى الميت وينفعه عند أهل السنة

“Dalam syarah kitab Al-Kanz disebutkan bahwa seorang boleh menghadiahkan pahala perbuatan baik yang ia kerjakan kepada orang lain, baik berupa sholat, puasa, haji, shodaqoh, bacaan Al-Qur’an atau semua bentuk perbuatan baik lainnya, dan pahala perbuatan tersebut sampai kepada mayit dan memberi manfaat kepada mayit tersebut menurut ulama’ Ahlussunnah. (Nail Al-Author, Juz IV hal 142)

 Setelah menjelaskan bahwa seluruh ulama’ telah sepakat tentang sampainya pahala bacaan Al-Qur’an atau dzikir lainnya kepada mayit, Sayyid Alawi Al-Maliki, salah seorang guru besar di masjid Al-Haram pada zamannya berkata:
فان زعم احد انها حرام فقولوا له اين تحريمها فى كتاب الله او فى سنة رسول الله ص م واتلوا عليه “ولاتقولوا لما تصف السنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام لتفتروا على الله الكذب ان الذين يفترون على الله الكذب لا يفلحون”
وقولوا له ايضا ان زعمت انك مجتهد فليس اجتهادك اولى بالصواب من قول هؤلاء الأئمة الذين حكينا عنهم الإباحة مع ما يعضدهم من أذلة السنة النبوية, وان كنت مقلدا سقط الكلام معك والسلام
“Kalau ada orang menyangka bahwa hal tersebut (menghadiahkan pahala kepada orang mati) hukumnya haram, maka tanyakanlah kepadanya, “pada bagian manakah di dalam Al-Qur’an atau Hadits yang mengharamkan hal tersebut ?” kemudian bacalah ayat yang artinya “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta” ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah SWT. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah SWT tiadalah beruntung”.(QS Al-Nahl, 116). Katakan juga kepadanya, “Kalau memang anda merasa sebagai seorang mujtahid, maka ijtihad anda tidak lebih benar dari ijtihad para Imam yang disebut di atas, yang berpendapat boleh menghadiahkan pahala kepada orang lain berdasarkan dalil yang kuat dari hadits SAW. Namun jika anda masih dalam tingkatan muqallid, maka selesailah diskusi ini dengan anda” (Faidlu Al-Khabir, 178)

Kemudian yang dimaksud dengan pendapat yang masyhur dari Imam Syafi’i RA tentang tidak sampainya bacaan Al-Qur’an kepada orang mati. Seperti yang dikatakan Muhammad Ahmad Abdissalam :
والمشهور من مذهب الشافعي وجماعة من أصحابه أنه لايصل الى الميت ثواب قراءة القرأن
“Menurut pendapat yang “Masyhur” dari madzhab Syafi’I, serta segolongan dari Ashab Al-Syafi’I (pengikut madzhab Syafi’i), bahwa pahala membaca Al-Qur’an tidak sampai kepada mayit” (Hukmu Al-Qira’ah li Al-Amwat, 18-19)

Di kalangan Syafi’iyyah dalam menyimpulkan pendapat Imam Syafi’I ada beberapa istilah. Seperti Al-Shahih, Al-Azhhar, Al-Masyhur, Al-Rajih dan lain sebagainya, yang definisi istilah-istilah tersebut bisa dilihat pada kitab-kitab fiqih Syafi’iyyah. Sedangkan maksud pendapat Al-Masyhur dalam persoalan ini adalah apabila Al-Qur’an tidak dibaca di hadapan mayit dan tidak diniatkan sebagai hadiah kepada orang yang meninggal dunia tersebut. Salah seorang tokoh Syafi’iyyah, Syekh Zakaria Al-Anshari Al-Syafi’I menerangkan :
إن مشهور المذهب اي فى تلاوة القرأن محمول على ما اذا قرأ لا بحضرة الميت ولم ينو الثواب له او نواه ولم يدع
“Sesungguhnya pendapat yang masyhur (dalam madzhab Imam Syafi’i) mengenai pembacaan Al-Qur’an, adalah apabila tidak dibaca di hadapan mayit, serta pahalanya tidak diniatkan sebagai hadiah, atau berniat tetapi tidak didoakan” (Hukm Al-Syari’ah Al-Islamiyah fi Ma’tam Al-Arba’in, 43)

Hal tersebut karena Imam Syafi’i RA sendiri berpendapat sunnah membaca Al-Qur’an di dekat mayit. Imam Syafi’i RA berkata :
ويستحب ان يقرأ عنده شيئ من القرأن وان ختموا القرأن كله كان حسنا
“Disunnahkan membaca sebagian ayat Al-Qur’an di dekat mayit, dan lebih baik lagi jika mereka (pelayat) membaca Al-Qur’an sampai khatam”. (Dalil Al-Falihin Juz VI hal 103)

Dan banyak riwayat yang menyatakan bahwa Imam Syafi’i RA berziarah ke makam Laits bin Sa’ad dan membaca Al-Qur’an di makam tersebut.
وقد تواتر أن الشافعي زار الليث بن سعد وأثني خيرا وقرأ عنده ختمة وقال أرجو أن تدوم فكان الأمر كذلك
“Sudah popular diketahui oleh orang banyak bahwa Imam Syafi’i pernah berziarah ke makam Laits bin Sa’ad. Beliau memujinya dan membaca Al-Qur’an sekali hatam di dekat makamnya. Lalu beliau berkata, “Saya berharap semoga hal ini terus berlanjut dan senantiasa dilakukan” (Al-Dakhirah Al-Tsaminah, 64)

Berdasarkan keterangan di atas menjadi jelas bahwa Imam Syafi’i RA juga berkenan menghadiahkan pahala kepada mayit. Hanya saja harus dibaca di hadapan mayit, atau di do’akan pada bagian akhirnya kalau mayit tidak ada di tempat membaca Al-Qur’an tersebut. Dengan kehendak Allah SWT pahala bacaan tersebut akan sampai kepada mayit. (Al-Tajrid Li Naf’I Al-‘Abid Juz III hal 276)

Mengenai keharusan berdo’a setelah membaca Al-Qur’an atau dzikir (tahlil), bagi Imam Syafi’i RA itu merupakan satu syarat yang mutlak dilakukan. Sebagaiman diriwayatkan oleh Rabi’ bahwa Imam Syafi’i RA berkata :
وأما الدعاء : فإن الله ندب العبادة اليه وامر رسوله ص م به فاذا اجاز ان يدعى للأخ حبا جاز ان يدعى له ميتا ولحقه أن شاء الله بركة ذلك مع أن الله واسع لأن يوفي الحي اجره ويدخل على الميت منفعته
“Tentang do’a maka sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambanya untuk berdo’a kepada-Nya, bahkan juga memerintahkan kepada Rasul-Nya. Apabila Allah SWT memperkenankan umat islam berdo’a untuk saudaranya yang masih hidup, maka tentu diperbolehkan juga berdo’a untuk saudaranya yang telah meninggal dunia. Dan barokah do’a tersebut insya Allah akan sampai. Sebagimana Allah SWT Maha Kuasa memberi pahala bagi orang yang hidup, Allah SWT juga Maha Kuasa untuk memberikan manfaatnya kepada mayit. (Diriwayatkan dari Al-Baihaqi dalam kitab Manaqib Al-Syafi’i Juz I hal 430)

Di dalam keterangan lain juga disebutkan :
 Fathul Mu’in Juz III hal 378 ( Dar al-Kutub al-Ilmiyah
أما القراءة فقد قال النووي فى شرح المسلم : المشهور من مذهب الشافعي أنه لايصل ثوابها الى الميت. وقال بعض أصحابنا يصل ثوابها للميت بمجرد قصده بها, ولو بعدها, وعليه الأئمة الثلاثة واختاره كثيرون من أئمتنا, واعتمده السبكي وغيره, فقال : والذي دل عليه الخبر بالإستنباط أن بعض القرأن اذا قصد به نفع الميت نفعه وبين ذلك, وحمل جمع عدم الوصول الذي قاله النووي على ما إذا قرأ لابحضرة الميت ولم ينو القارئ ثواب قراءته او نواه ولم يدع.
وقد نص الشافعي والأصحاب على ندب قراءة ما تيسر عند الميت والدعاء عقبها, اي لانه حينئذ ارجى للإجابة, ولأن الميت تناله بركة القراءة :كالحي الحاضر
قال ابن الصلاح : وينبغي الجزم بنفع ( اللهم أوصل ثواب ما قرأته ) اي مثله, فهو المراد, وان لم يصرح به لفلان, لأنه اذا نفعه الدعاء بما ليس للداعي فما له اولي. ويجرى هذا فى سائر الأعمال من صلاة وصوم وغيره.
 Bugyah Al-Musytarsidin hal 97 :
(فائدة) رجل مر بمقبرة فقرأ الفاتحة واهدى ثوابها لأهلها فهو يقسم او يصل لكل منهم مثل ثوابها كاملا؟ اجاب ابن حجر بقوله افتى جمع بالثانى وهو اللائق بسبعة رحمة الله
 Ianatut Thalibin Juz I hal 24 :
وقال المحب الطبري : يصل للميت كل عبادة تفعل. واجبة او مندوبة وفى شرح المختار لمؤلفه مذهب أهل السنة إن للإنسان ان يجعل ثواب عمله وصلاته لغيره ويصله.

About these ads

4 comments on “KEBENARAN HUKUM TAHLILAN

  1. mengenai cara2 walisongo menyebarkan agama islam dijawa,sudah clear.
    mendoakan atau berdoa jelas2 tidak ada larangan bahkan dianjurkan, “Laa ilaha illa Alloh ” tidak perlu diperdebatkan,its clear.isi2 dari tahlilan sudah jelas smuanya,yg menjadi permasalahan 1.tahlilan diadakan 7 hari,100 hari,1000 hari
    2.tamu diberikan suguhan (tujuannya baik,its clear),tuan rumah mampu ato tidak,tidak ada catatan.
    3.berjamaah dengan hal diatas
    allah sudah memberikan dasar2 yg jelas melalui nabi muhammad saw,mohon disebutkan dari dalil2/yg dicontohkan nabi muhammad saw dari 3 poin diatas.saya orang bodoh minta pencerahannya.ada bilang ada,tidak ada bilang tidak ada,gampang kok

      • POIN 1. waktu tahlilan di hitung per 7/100/1000 adalah :
        kembali ke latar belakang tahlil muncul di indonesia,para walisongo memberdayakan tahlilan pada masa itu untuk mengikis kebudayaan adat orang dulu yang senantiasa merayakan kematian seseorang dengan berpesta dalam beberapa kurun waktu..nah tahlilan yang di usung para walisongo pun mengikuti alur kebiasaan itu dengan tujuan mengikis kebiasaan orang waktu itu agar waktu pesta seusai kematian seseorang dapat diisi dengan tahlilan.nah anda bisa mengartikan kondisi dan situasi kan?dan hikmah bagi kita sekarang adalah kita jadi pewaris ahli ibadah bukan jadi pewaris leluhur yang sesat..hikmah lain adalah tahlilan dapat meningkatkan kesadaran dan ketakwaan seseorang,,pelipur lara bagi keluarga yang berduka cita,,,dari pada melamunin atau cari kesibukan gak penting buat ngelupain almarhum a mending tahlilan sambi silaturahmi dengan saudara,tetangga dan sanak family.

        POIN 2. kalo masalah biaya?ya jangan maksain,,maksudnya maksain serba wah,,orang yang tahlilan kan orang2 yang ridho tanpa pamrih buat tahlilan ,,,jadi seadanya seminimal mungkin mampunya juga gak apa apa…nah kalo kita niat dan gak ada biaya asal mau maksaian pasti ada yang bantuin nantinya( ALLOH SWT MAHA PENGASIH) ..muslim yang percaya keagungan NYA pasti dapat berkah NYA…

        POIN 3 tahlilan sendiri dirumah boleh,asal diniatkan dihadiahkan buat tujuan pada yang di tahlilkan. . berjamaah : pada masa walisongo bertujuan untuk mempererat kesatuan umat muslim dan silaturahmi,begitu juga berfaedah untuk jaman sekarang.selain itu berjamaah di rumah almarhum juga menjadi pelipur sedih keluarga dari almarhum,juga dari segi kekhusyuan berjamaah dapat meningkatkan ke khusyuan dalam beribadah berdoa dan sebagainya.

        tambahan nya :

        dari pandangan kefaedahan dan tidak bertentangannya dengan yang dilarang (dosa) oleh agama tahlilan diartikan sebaai sarana ibadah yang berfaedah dan baik.

        dari segi penyelenggaraan dan pelaksanaan nya jangan menjadi pertanyaan yang menghambat,,kalo boleh berbicara dalil dan AL- QURAN sesungguhnya tahlilan sebagian dari pada dakwah,,,karena setiap orang muslim yang lahir di jaman nabi MUHAMMAD SAW hingga hari kiamat adalah mereka muslim yang seharusnya melanjutkan perjuangan NABI MUHAMMAD SAW untuk berdakwah,,,dan para walisongo adalah diantara pendakwah itu.

        metode tahlilan adalah syafaat para wali yang di modifikasi menyesuaikan kondisi dan adat istiadat setempat,,

  2. Ping-balik: Tahlilan sebagai Media dalam penyampaian pahala bacaan al-Qur”an dan Dzikir kepada orang yang meninggal dunia « Ahmadbijan's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s